Tuesday, August 11, 2009

Dijalanku, ku diiring oleh Yesus TUHAN-ku
apakah yang kurang lagi, jika Dia panduku
diberi damai surgawi agar jiwaku tenang
suka duka dipakaiNya untuk kebaikanku
suka duka dipakaiNya untuk kebaikanku

Pagi ini tanpa sadar saya mendendangkan lagu ini berulang-ulang sebelum akhirnya menyadari bahwa TUHAN tidak menjanjikan suka-suka dipakainya untuk kebaikan saya, melainkan suka-duka dipakainya untuk kebaikan saya, karena itu dalam segala hal, dalam SEGALA hal haruslah mengucapkan syukur. Ucapan syukur tersebut bukan karena hal itu, melainkan karena dalam segala hal, suka maupun duka, baik maupun buruk, TUHAN bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Situasi-situasi yang harus saya hadapi, ada, karena di dalamnya kuasa TUHAN bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Seandainya saya mampu untuk melihat melalui sudut pandang ini dan selalu menyadari bahwa segala sesautu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang dipanggil dan dikasihiNya, dan saya adalah bagian dari komunitas yang seharusnya menyadari hal itu sebagai sebuah fakta iman, yaitu Kristus, mati untuk menyelamatkan saya, dan kebangkitanNya adalah jaminan bahwa Ia adalah Sang Mesias, Ia adalah TUHAN sendiri dalam wujud manusia, maka tidak ada satupun yang dapat membuat saya meragukan kasihNya dalam keadaan apapun.

Ah.. betapa seringnya saya mempertanyakan kebaikanNya, betapa seringnya saya meragukan kasihNya, hanya karena saya selalu melihat dari sudut pandang yang terbatas ini, karena saya gagal untuk langsung menyadari bahwa Ia ada dan menolong saya dan bekerja dalam situasi apapun.

---

Bapa Surgawi di dalam TUHAN Yesus Kristus, mampukan aku untuk selalu menyadari sebuah fakta iman bahwa Engkau ada walaupun aku dalam kemanusiaan yang fana dan bebal ini seringkali tak mampu merasakan kehadiran hadiratMu. Namun Engkau ada, itu adalah kebenaran yang sesungguhnya, apakah aku mampu merasakannya atau tidak, apakah aku mampu mengerti atau tidak. Aku tahu, Engkau ada disampingku dalam setiap keadaan.

Terimakasih TUHAN untuk penyertaanMu.


[ ... ]

Tuesday, June 23, 2009

Awal Mulanya

Ya, mari kembali dari awal mula. Segala sesuatu harus ada permulaannya atau lebih tepatnya langkah pertama sebelum segala sesuatu dapat terjadi. Itulah yang saat ini sedang saya lakukan dan semoga akan terus berlanjut secara teratur dari hari ke hari. Hari ini pukul 9.48, saya memutuskan untuk mengambil waktu dan menulis tentang permulaan, permulaan yang terdapat di dalam Kejadian 1 hingga Kejadian 2. Saya sedang berusaha mengembalikan diri menikmati Alkitab secara perlahan-lahan. Bertepatan dengan ulangtahun yang ke-41 tahun 3 hari yang lalu, maka sudah terlalu pas momentumnya untuk melakukan gerakan back to the bible yang sesungguhnya.
[ ... ]

Saturday, June 20, 2009

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib


TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir.

Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

---

Untuk satu lagi tanda tahun-tahun yang akan aku lewati, sebentar lagi, oleh karena anugerahMu, aku bersyukur. Untuk satu lagi tanda bahwa aku boleh menjalani masa sejauh ini dalam sejengkal nafasku yang Kau titipkan dalam raga ini, aku bersyukur. Untuk satu lagi tanda bahwa Engkau masih menambahkan waktu aku ada, sungguh aku bersyukur. Untuk segenap kehidupan yang telah aku jalani selama empat puluh satu tahun ini Bapa, aku merasa takjub bahwa dalam segala situasi dan keadaan, dalam setiap naik dan turun jalan kehidupanku Engkau ada, bahkan ketika aku gagal untuk setia, Engkau tetap setia, ketika aku gagal untuk mengasihi, Engkau tetap mengasihi, ketika aku ragu, marah dan putus asa, Engkau tidak pernah putus mengingatkan lagi dan lagi untuk percaya saja, percaya saja, percaya saja. Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus aku bersyukur, terimakasih. (^__^)

[ ... ]

Saturday, March 21, 2009

Idola dan Berhala

Sebuah pemikiran tiba-tiba "mencuat" keluar pagi ini ketika saya sedang membaca sebuah berita di koran Kompas yang topiknya : Olahraga. Di dalam berita tersebut dikisahkan tentang para pelatih olahraga Bulutangkis asal Indonesia yang kini melatih di negara-negara lain karena "mati suri"-nya olahraga ini sekarang di Indonesia. Membaca berita ini, pikiran saya melayang kepada Liem Swie King. Dia sempat menjadi idola saya ketika usia saya masih sangat belia, sekitar kelas tiga sekolah dasar. Bahkan saya ingat sekali mama pernah menemukan sepucuk surat cinta yang saya hendak kirimkan kepada idola saya tersebut! Haha, kalau mengingat hal itu rasanya menggelikan. Namun tidak menggelikan bagi gadis kecil berusia sembilan tahun yang sangat memuja sang idola, dan hal ini juga tidak menggelikan bagi banyak orang saat ini yang sangat mengidolakan seseorang, entah itu olahragawan, bintang filem, penulis, atau bahkan blogger tertentu. Rasa kagum yang luarbiasa terhadap seseorang biasanya terjadi karena hobi atau "kegilaan" tertentu akan sesuatu dan orang tersebut (yang menjadi idola) adalah salah satu dari sekian yang sangat menonjol prestasinya di bidang tersebut.

Setelah lama tidak memiliki idola di Bulutangkis atau olahraga manapun, karena ternyata saya bukan penggemar olahraga, dan juga tidak memiliki idola dibidang-bidang manapun, pagi ini barulah saya menyadari satu hal yang selama ini terlewatkan oleh saya, yaitu sebuah pengertian baru tentang berhala. Berhala adalah sesuatu atau seseorang yang menjadi super idola kita. Ia ada di atas segala-galanya. Ia adalah yang terpenting bagi kita sehingga mengalahkan kedudukan TUHAN sendiri dalam kehidupan kita.

Idola ini bisa jadi dalam bentuk harta, gadget baru, pergaulan, keluarga, pelayanan, diri sendiri, kekasih dll, yang menjadi fokus utama dalam kehidupan kita dan mengambil alih tempat TUHAN sebagai satu-satunya idola utama dalam kehidupan manusia.

Harus saya akui bahwa idola utama saya adalah blog. Pagi-pagi sekali begitu membuka mata, saya langsung teringat kepada blog saya (lebih tepatnya: blog-blog saya, karena saya memiliki beberapa blog) yang menjadi seperti harta paling berharga bagi saya, karena menyimpan sebagian dari pemikiran-pemikiran saya dan karena itu menjadi semacam diri saya yang dititipkan untuk mengapung di dunia maya ini.

Dimana hartamu, disitulah hatimu, bukankah demikian yang dikatakan oleh Alkitab. Menyedihkan bagi saya, selain harta saya fana, ia juga maya. Saya sedang berusaha untuk mengembalikan hati saya menuju ke arah yang tepat, ke arahNya. Entah bagaimana, dengan suaraNya yang halus dan lembut itu, TUHAN telah menegur saya pagi ini.

Bapa Surgawi di dalam TUHAN Yesus Kristus, terimakasih karena Engkau membukakan mataku pagi ini, menegur aku dengan lembut dan mengingatkan aku bahwa fokus utama dalam kehidupanku harus diluruskan. Engkau harus menjadi pusat dari segala sesuatu dalam hidupku. Terimakasih ya Bapa. Di dalam Nama Yesus, AMIN.


[ ... ]

Sunday, March 8, 2009

Memulai dan Menutup Hari Dengan TUHAN

Kesadaran ini membangunkan saya dari tidur siang yang sudah berkepanjangan, saya harus memulai dan menutup hari dengan TUHAN. Maksudnya adalah, saat teduh itu harus saya lakukan secara rutin ketika bangun tidur dan sebelum tidur. Ada saat-saat (jam-jam) khusus yang disediakan untuk diam dalam hadiratNya. Jam-jam khusus yang paling mungkin adalah pagi-pagi sekali dan malam-malam sekali. Dulu, sewaktu beban terasa sangat berat, saat-saat teduh itu begitu saya tunggu-tunggu dan jarang sekali terlewatkan, namun sekarang-sekarang ini, saat segala sesuatu kelihatan tenang dan lancar-lancar saja, saya mulai dihanyutkan oleh perasaan aman dan nyaman.

Catatan ini adalah sebuah catatan kecil sebagai sebuah pengingat bahwa saya harus mulai menata diri dan waktu, menempatkan TUHAN dalam posisi yang seharusnya, yaitu sebagai sentrum dari kehidupan saya, dan membenahi hubungan saya denganNya.

Saat ini adalah masa-masa Minggu Sengsara menuju Paskah. Masih ada waktu bagi saya untuk mulai mengikutinya.


[ ... ]

Saturday, March 7, 2009

Menulis: Sebuah Disiplin

Menulis adalah sebuah ruang untuk belajar mendisiplin diri sendiri. Itu yang belakangan ini saya sadari. Selain saya memang suka menulis, saya juga memang ingin menulis secara teratur, tidak menggantungkan diri kepada mood seperti yang seringkali dikatakan oleh banyak orang, menulis berdasarkan mood. Mood tidak dapat dipegang, sebab ia datang dan pergi tergantung perasaan yang seringkali sangat dipengaruhi oleh situasi. Saya ingin keluar dari kotak imajiner bernama "mood" ini, membebaskan diri saya dari kekang ke dalam sebuah disiplin.

Memang agak aneh kedengarannya. Aneh bahwa sebuah disiplin justru menjadi sarana kebebasan. Bukankah disiplin justru merupakan sebuah kondisi yang mengikat seseorang pada sebuah kebiasaan? Ya. Justru itu yang sedang saya lakukan. Saya sedang mendisiplin diri saya agar terbiasa menulis dan menulis! Saya sedang mengatur diri saya agar membagi waktu saya sedemikian rupa sehingga saya dapat secara efektif mempergunakannya untuk melakukan hal yang berguna, dan menulis membantu saya melakukannya.

Menuliskan apa yang saya peroleh setiap pagi dan malam dari firman yang saya baca harus menjadi sebuah kebiasaan. Bukankah ketika blog ini saya buat, itulah tujuan saya, yaitu merekam jejak-jejak kaki kami, TUHAN dan saya, berjalan bersamaNya dalam sebuah petualangan spiritual yang tak akan terlupakan karena saya mencatatnya di sini, sehingga kemudian saya dapat membaca dan merenungkannya kembali ketika diperlukan?

---

Bapa Surgawi, lagi-lagi saya alpa. lagilagi saya membiarkan dunia dan kesibukannya memisahkan kita. Bapa, saya tahu bahwa Engkau dekat dan lekat. saya tahu bahwa Engkau tak pernah berhenti menunggu saya untuk kembali. saya bahkan tahu bahwa Engkau pasti menarik saya kepadaMu, namun telinga saya lambat untuk mendengar, mata saya berlari kesana kemari dan tidak fokus memandang hanya ke wajahMu.

Tolong anakMu ini, Bapa, untuk mulai baru, hari ini. saat ini juga.

[ ... ]

Sunday, February 22, 2009

Be Still 2

Hari ini saya membaca sebuah artikel berjudul: Jamming Communications. Di dalam artikel ini dituliskan bahwa anak perempuan si Penulis artikel pernah menulis sebuah esai yang memenangkan penghargaan di kampusnya. Esai ini membahas tentang besarnya pengaruh dari radio. Di dalam esai tersebut dituliskan bahwa, "radio memiliki kemampuan untuk menembus tembok-tembok dan menyelinap melalui penjaga perbatasan." Diceritakan pula di dalam artikel ini bagaimana pemerintah Amerika Serikat mempergunakan radio untuk memyiarkan pesan-pesannya tentang Free World (Dunia Bebas) kepada masyarakat yang terkungkung di dalam Tirai Besi (Iron Curtain) melalui sebuah organisasi bernama Radio Free Europe. Masyarakat yang berada di dalam negara-negara komunis ini harus mendengar kebenaran tentang bagaimana sesungguhnya keadaan dunia bebas di luar dunia mereka yang sempit karena dikurung oleh ideologi yang merupakan sebuah penjara mental, spiritual, dan psikologis maupun penjara fisik. Tanpa adanya siaran radio tersebut niscaya masyarakat yang terkungkung itu tidak akan pernah tahu bagaimana keadaan dunia di luar negara mereka. Tentu saja para pemimpin Komunis tidak ingin rakyat banyak mengetahui informasi-informasi tersebut, maka mereka akan membajak frekuensi yang digunakan oleh pihak luar tersebut dengan cara membuat bunyi-bunyian bising hanya agar kebenaran yang sedang diberitakan itu tidak dapat sampai kepada mereka yang sedang mendengarkan.

Artikel ini mengingatkan saya bahwa hal itu jugalah yang sedang dilakukan oleh iblis dalam kehidupan kita setiap harinya. Ia mencoba mengganggu frekuensi khusus kita dengan TUHAN dengan cara menciptakan kebisingan agar kita tidak mampu mendengarkan suara Kebenaran, suara TUHAN. Kebisingan itu dapat berupa kesibukan-kesibukan kerja dan rumah tangga, bahkan pelayanan, yang membuat kita alpa untuk menyediakan waktu sendiri dalam diam hening dan mengetahui bahwa TUHAN adalah TUHAN. Kondisi solitari ini yang acapkali lalai kita jaga, sebab kita sudah dimanipulasi oleh musuh jiwa kita untuk berpikir diam atau berdiam diri, mengheningkan segala indera dari apapun juga selain fokus kepada TUHAN adalah sebuah pekerjaan yang sulit atau justru membuang-buang waktu. Bukankah bertindak lebih baik daripada berdoa? Kesibukan-kesibukan ditambah dengan kesenangan-kesenangan yang sudah menjadi bagian dari hidup seperti televisi, background music, dering telepon, surfing di internet, menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkomunikasi dengan teman melalui messenger, semuanya itu menghasilkan kebisingan-kebisingan yang menggeser waktu untuk memikirkanNya dalam keheningan.

Untuk menyembahNya, diperlukan konsentrasi dan kemauan untuk hanya berdua dengannya, tanpa ada sekat, apapun juga bentuknya. Untuk mendengarkan TUHAN kita perlu belajar berdiam diri secara total dan menantikan kehadiranNya.

Ampuni aku TUHAN, sungguh, aku sangat lalai. amat sangat.

Be still, and know that I AM GOD.

[ ... ]